Menikah Harus Sekufu? Yang Paling Menentukan Setara Agamanya

Ilustrasi untuk "Menikah Harus Sekufu? Yang Paling Menentukan Setara Agamanya"

Ada satu nasihat yang sering terdengar menjelang seseorang menikah. Carilah yang sekufu, yang setara. Nasihatnya baik, tapi bagi banyak orang kalimat itu menimbulkan kebingungan. Setara dalam hal apa? Apakah aku harus mencari yang selevel secara status, pendidikan, atau ekonomi? Bagaimana kalau ada calon yang baik agamanya, tapi berbeda status denganku atau dengan keluargaku?

Kalau kita sedang menimbang pertanyaan itu, tulisan ini untuk kita. Karena jawabannya bergantung pada satu hal: dengan timbangan apa sebenarnya kita mengukur kata “setara”.

Pertanyaan yang wajar, tapi sering diukur dengan timbangan yang keliru

Keinginan untuk menikah dengan yang setara itu wajar. Kita ingin rumah tangga yang tidak timpang, yang kedua pihaknya bisa saling memahami. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu.

Yang keliru sering bukan keinginannya, tapi ukurannya. Ketika “setara” langsung dipahami sebagai setara harta, setara gelar, setara status sosial, kita sedang memakai timbangan dunia untuk menilai sesuatu yang penentu utamanya bukan dunia. Dan dengan timbangan itu, kita bisa menolak orang yang baik hanya karena satu kolom di atas kertas tidak sama.

Kesetaraan yang paling menentukan dalam Islam adalah agama

Ketika Islam berbicara tentang memilih pasangan, ada satu hal yang ditempatkan di atas segalanya.

Hadits

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung."

HR. Bukhari dan Muslim

Empat perkara disebut, tapi hanya satu yang diperintahkan untuk dimenangkan. Harta, keturunan, dan kecantikan diakui sebagai hal yang biasa dipertimbangkan manusia, tapi agama yang dijadikan penentu. Maka kesetaraan yang paling menentukan bukan setara harta atau nasab, tapi setara dalam hal yang paling menentukan arah rumah tangga: agama dan akhlak.

Kalau dua orang sama-sama menjaga agamanya, sama-sama serius membangun rumah yang berlandaskan ketakwaan, di situ ada kesetaraan yang paling dalam, meski status dunia mereka berbeda.

Harta, status, dan nasab boleh dipertimbangkan, tapi bukan penentu

Ini tidak berarti harta, status, atau latar belakang sama sekali tidak boleh ditimbang. Islam tidak menutup mata dari hal-hal itu.

Mempertimbangkannya boleh, dan wajar. Yang tidak boleh adalah membalik urutannya, menjadikan status atau ekonomi sebagai penentu utama sementara agama dijadikan pelengkap, atau bahkan disingkirkan. Ketika agama dan akhlak calon sudah baik, perbedaan status seharusnya menjadi hal yang dibicarakan dan dijembatani, bukan tembok yang otomatis membatalkan.

Hadits

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

"Jika telah datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi."

HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

Perhatikan apa yang dijadikan syarat dalam hadits ini: agama dan akhlaknya yang diridhai. Bukan sepadan hartanya, bukan sederajat status keluarganya. Menolak yang sudah baik agama dan akhlaknya, semata karena timbangan dunia, justru diperingatkan sebagai pintu fitnah dan kerusakan.

Setara itu soal nilai dan tujuan, bukan seragam dalam label

Maka “setara” yang sehat bukan berarti seragam dalam label. Dua orang bisa berbeda pekerjaan, berbeda penghasilan, berbeda latar keluarga, tapi tetap sangat setara dalam hal yang paling menentukan: cara mereka memandang Allah, tujuan hidup mereka, dan komitmen mereka menjaga agama.

Sebaliknya, dua orang bisa sama persis status sosialnya, sama gelarnya, sama kayanya, tapi timpang di tempat yang paling penting, karena yang satu menjadikan Allah sebagai pusat dan yang lain tidak. Kesamaan label tidak pernah bisa menutupi ketimpangan pada fondasi.

Yang perlu kita cari bukan cermin dari status kita, tapi teman seperjalanan menuju Allah. Kesetaraan dalam arah itulah yang membuat dua orang bisa saling menguatkan, bukan sekadar sepadan di mata orang.

Dan hitungan hari lahir bukan bagian dari ajaran ini

Ada satu hal yang perlu diluruskan dengan tegas. Di tengah pembicaraan tentang kecocokan dan kesetaraan, kadang masuk ukuran-ukuran berupa ramalan dan hitungan berdasarkan hari atau tanggal lahir.

Ini sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam dalam memilih pasangan. Menggantungkan keputusan pada hitungan seperti itu bukan sekadar tidak dianjurkan, tapi bertentangan dengan tauhid, karena ia menaruh kepercayaan pada sesuatu yang tidak Allah jadikan sebagai sebab. Kecocokan yang Islam ajarkan berpijak pada agama dan akhlak, lalu pada hal-hal yang bisa dinilai secara nyata dan jujur, bukan pada ramalan yang tidak berdasar.

Kalau kita ingin menimbang calon dengan ukuran yang benar, mengutamakan yang paling menentukan tanpa terjebak timbangan dunia, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah menikah harus sekufu atau setara secara status?
Kesetaraan yang paling menentukan dalam Islam bukan status sosial, harta, atau pendidikan, tapi agama dan akhlak. Harta, nasab, dan penampilan boleh menjadi pertimbangan, tapi ia bukan penentu utama. Kalau ada calon yang baik agama dan akhlaknya, perbedaan status seharusnya tidak menjadi tembok yang membatalkan, karena yang paling menentukan keberlangsungan rumah tangga adalah fondasi agamanya, bukan kesamaan label duniawi.
Bagaimana kalau calon baik agamanya tapi beda status atau ekonomi?
Kalau agama dan akhlaknya baik, itu justru fondasi yang paling penting sudah terpenuhi. Perbedaan status atau ekonomi adalah hal yang bisa dibicarakan, disepakati, dan dijembatani, terutama lewat komunikasi keluarga dan perantara. Menolak calon yang baik agamanya semata karena beda status sering kali bukan soal kecocokan yang mendasar, tapi soal menimbang dunia lebih dari yang seharusnya.
Apakah hitungan hari lahir termasuk pertimbangan sekufu dalam Islam?
Tidak. Ramalan berdasarkan hitungan atau kecocokan tanggal lahir sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam dalam memilih pasangan, dan bergantung padanya justru bertentangan dengan tauhid. Pertimbangan yang Islam ajarkan berpusat pada agama dan akhlak, lalu hal-hal yang bisa dinilai secara nyata seperti kecocokan visi dan kesiapan, bukan ramalan atau hitungan yang tidak ada dasarnya dalam syariat.

← Semua tulisan